Berita Indonesia, Berita Internasional, Berita Viral, Unik Dunia, Food and Travel, Sports, Entertainment, Online Game, Iptek

Oei Tiong Ham, Si Raja Gula Dari Semarang

ENTERTAINMENT

Beritamillennial.com – Saat para konglomerat indonesia pada melabeli group usahanya dengan embel-embel nama pendirinya, Oei Tiong Ham Pratinjau (tautan akan dibuka di jendela baru)Concern, salah satu konglemerasi pertama di hindia Belanda pada abad 19.

Hasil gambar untuk Oei Tiong Ham, Si Raja Gula Dari foto keluarga

jatung bisnis keluarganya oei Tiong Ham concern memang campur aduk, dari perkebunan tebu dan pabrik gula, perusahan dagang, pelayaran, konstruksi, lahan yasan (real estate), dan perbankan. kipras bisnis Oel Tiong Ham yang disebut terkahir merupakan bank Tionghoa pertama di jawa.

Jantung bisnis Oei Tiong Ham Concern memang campur aduk, dari perkebunan tebu dan pabrik gula, perusahaan dagang, pelayaran, kontruksi, lahan yasan (real estate), dan perbankan. Kiprah bisnis Oei Tiong Ham yang disebut terakhir merupakan bank Tionghoa pertama dijawa.

Bisnis gula oei Tiong Ham Concern cukup besar. Ia sempat memiliki lima dia sempat memiliki lima pabrik memlalui akuisisi sejumlah pabrik  yang gulung tikar pada 1880-an. Lima pabrik gula ini antara lain PG Rejoagung, Krebet, Ponen, dan Tanggulangin. Perkebunan dan pabrik gula Oei Tiong Ham adalah imbas dari era liberalisasi ekonomi pertama di Jawa pada 1870 alias Agrarische Wet (UU Pokok Agraria).

Undang-undang pengganti era tanam paksa (Cultuurstelsel) ini mengatur penguasaan tanah-tanah skala besar kepada swasta, yang gilirannya mendorong bisnis onderneming alias perkebunan swasta.

 

Besar lewat Gula

Gulalah yang membesarkan bisnis keluarga Oei Tiong Ham. Ia lahir pada 19 November 1866 dari ayah yang seorang pebisnis bernama Oei Tjien Sien, yang berasal dari Fukien atau Fujian, sebuah provinsi di pesisir selatan Tiongkok. Tiga tahun sebelum Oei Tiong Ham lahir, ayahnya mendirikan pabrik gula bernama Kian Gwan di Semarang. Pada umur 19 tahun, Oei Tiong Ham sudah diberi tanggung jawab buat meneruskan bisnis gula ayahnya. Oei Tiong Ham lantas mengubah nama perusahaan menjadi Oei Tiong Ham Concern (OTHC). Bisnis gula di bawah Oei Tiong Ham berkembang pesat.



Oei Tiong Ham bukan hanya bos dari grup besar dari sebuah gurita bisnis. Ia dan keluarganya ditunjuk pemerintah Hindia Belanda sebagai letnan, yang punya kewenangan mengatur lingkungan komunitas Tionghoa dengan, salah satu tugasnya, memungut pajak atau cukai candu dan mengontrol sistem pas yang ketat. Ini bagian dari kebijakan rasialis pemerintah Kolonial saat itu yang mencacah masyarakat berdasarkan pembelahan rasial.


Dalam Penguasa Ekonomi dan Siasat Pengusaha Tionghoa (1996), Made Tony Supriatma menyebut sosok Oei Tiong Ham sebagai kapitalis besar di Hindia Belanda dan mewakili kapitalisme Tionghoa: “…Kapitalisme besar yang hidup di Indonesia, seperti “Raja Gula” Oei Tiong Ham, berhasil menjadikan dirinya sejajar dengan kapitalis-kapitalis barat.”


Oei Tiong Ham merupakan kelompok bisnis Tionghoa terbesar di Asia Tenggara sebelum perang. Yoshihara Kunio juga menyebut hal sama dalam Konglomerat Oei Tiong Ham: Kerajaan Bisnis pertama di Asia Tenggara (1992).


Masa kejayaan Oei Tiong Ham Concern berselang pada 1920-an. Total kekayaannya diperkirakan mencapai 200 juta gulden. Surat kabar De Locomotief, yang terbit di Semarang, menyebut Oei Tiong Ham sebagai “The Richest man between Shanghai and Australia.”

 

Kunci suksesnya mengelola bisnis gula karena mampu menjadi terdepan dalam teknologi. Pabrik-pabrik gula Oei Tiong Ham adalah yang pertama menggunakan teknologi elektrifikasi. PG Rejoagung merupakan pabrik gula pertama di Hindia Belanda yang dijalankan dengan tenaga listrik. Ia juga mempekerjakan para teknisi barat, akuntan, dan pengacara didikan barat. Para ahli dari Jerman juga didatangkan sebagai penasihat untuk mengolah hasil panen secara modern.

 

Hantaman Depresi Besar

Oei Tiong Ham meninggal pada 1924 di Singapura dengan meninggalkan delapan istri. Bisnis gula mengalami kelesuan pada era 1930-an akibat malaise alias Depresi Besar (1929-1939). Dampak krisis dunia ini salah satunya pada bisnis gula. Penggambaran jatuhnya industri gula yang punya efek besar pada bidang ekonomi pemerintah kolonial, menurut sejarawan John Ingleson (2013),

“tak hanya ada sedikit pekerjaan di pabrik-pabrik gula, melainkan juga di bidang kereta api, pelabuhan dan industri pabrik serta sektor layanan yang bergantung pada permintaan dari pabrik-pabrik gula.”

 

Di masa lesu itu, kerajaan bisnis Oei Tiong Ham dipegang putranya, Oei Tjong Hauw, hingga era 1950-an. Kejayaan Oei Tiong Ham Concern akhirnya berakhir pada 1964. Perusahaannya dinasionalisasi dan aset-asetnya disita oleh pemerintah Indonesia melalui vonis yang diputuskan oleh Pengadilan Ekonomi Semarang. Dakwaannya: perusahaan melanggar aturan mengenai valuta asing.

 

Sebagian aset Oei Tiong Ham Concern lantas disertakan sebagai modal bagi pendirian PT Perusahaan Perkembangan Ekonomi Nasional (PPEN) Rajawali Nusantara Indonesia pada 12 Oktober 1964. Ia adalah cikal bakal PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), salah satu perusahaan pelat merah perkebunan tebu dan multibisnis lain di Indonesia.


==================================================================

 

Bacaan tambahan: Orang Tionghoa di era kolonial bukan hanya melulu kisah konglomerat, melainkan juga menghiasi sejarah Indonesia sebagai buruh kasar alias kuli, yang bekerja di pertambangan maupun di perkebunan swasta. Perbudakan di era kolonial ini, salah satunya, untuk menyokong sistem tanam paksa (cultuurstelsel) pada 1830 di masa Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Setiap desa wajib menyetorkan 1/5 dari hasil lahannya kepada pemerintah berupa komoditas yang diminati pasar global. Dalam waktu singkat sistem ini menyelamatkan keuangan negara dan kerajaan Belanda yang nyaris bangkrut akibat, salah satunya, Perang Jawa (1825-1830). Ia sekaligus menutup utang pemerintah dan membiayai ekspansi serta perang pemerintah kolonial di masa selanjutnya. Sistem paling eksploitatif dalam praktik ekonomi-politik pemerintah Belanda ini dihapus pada 1870 saat dikenalkan Agrarische Wet kendati di luar Jawa masih berlangsung hingga paruh pertama abad 20. (Baca tentang kuli kontrak Tionghoa di masa kolonial:

 

Tinggalkan Balasan