Taylor Swift tampil di sebuah pertunjukkan pada 2015

SUMBER GAMBAR,JONATHAN HAYWARD/AP/SIPA

Taylor Swift mengumumkan bahwa dia akan merilis ulang salah satu album terpopulernya 1989 pada bulan Oktober mendatang.

Sejak 2021, para penggemar musik pop telah dengan semangat mendengarkan album-album sang penyanyi yang direkam ulang, dijuluki “Taylor’s version”, dan telah diputar di berbagai layanan streaming sebanyak lebih dari satu miliar kali — jauh melebihi versi orisinalnya.

Pada 2019, eksekutif musik Scooter Braun mengakuisisi mantan label rekaman Swift, Big Machine, dan dengan itu mendapatkan kepemilikan atas seluruh katalog karya sang penyanyi sebelum dilaporkan menjual kaset Master-nya ke sebuah dana investasi seharga $300 juta (Rp4,6 triliun).

Setelah bertahun-tahun berusaha mendapatkan hak atas karyanya kembali, Swift memutuskan untuk merekam ulang seluruh karyanya.

Setelah merilis ulang Fearless (2008) dan Speak Now (2010), kemudian yang terbaru Red (2012), sekarang para penggemar akan diajak untuk mengunjungi kembali momen integral dalam karier Taylor Swift — yang menandai awal era pop sang penyanyi, dan re-invensi dirinya sendiri.

Swift mengambil langkah kontroversial dengan menjauh dari akar country-nya ke arah “alt-pop” pada Red (2012). Dia menggaet mega-produser pop Swedia Max Martin sebagai kolaborator, dan single “I Knew You Were Trouble” dan “We Are Never Ever Getting Back Together” menggabungkan suara gitar tradisionalnya dengan serangkaian pengaruh yang lebih beragam, dari EDM hingga dubstep.

Ketika album ini dirilis, Swift menghadapi reaksi keras dari banyak penggemar musik country di AS – sebagaimana yang dihadapi Bob Dylan ketika dia pertama kali menggunakan gitar listrik.

Namun, langkah berani itu juga membawakannya audiens yang sama sekali baru, yaitu jutaan penggemar musik pop di seluruh dunia.

Sampul album Taylor Swift, 1989
Keterangan gambar,Sampul album Taylor Swift, 1989

Tetapi baru pada album berikutnya Swift menemukan ekspresi penuh dari arah popnya.

1989 disambut dengan antusias ketika pertama kali dirilis pada tahun 2014: Billboard menyebutnya “tour-de-force yang memukau”, sementara Rolling Stone mengatakan album tersebut “tidak kedengaran sama sekali seperti yang pernah dia coba sebelumnya”.

Dan sudah sepatutnya mahakarya retrofuturis Swift itu kembali ke arus utama hampir satu dekade setelah pertama kali dirilis.

Ini adalah album yang melampaui waktu, menggabungkan berbagai pengaruh dan era, baik secara musik maupun lirik, melalui narasi tentang memori dan kehilangan, secara bersamaan melihat ke masa lalu dan masa depan.

Dengan pengumuman rilis ulang album Taylor Swift, 1989 (Taylor’s Version), pemerhati musik Rob Freeman mengulas kembali momen yang mengubah karier sang musisi selamanya.

Dibuat bersama kawan, kolaborator, dan vokalis Bleachers Jack Antonoff, 1989 adalah karya yang sempurna dari aspek musik dan struktur album, dengan lirik yang ditulis seperti diary dan iring-iringan synthesizer yang kaya serta perkusi yang vokal.

Dari taburan bunyi synthesizer ala 80-an, sampai foto polaroid yang pudar di sampulnya, album ini bertema nostalgia, sekaligus penuh antisipasi tentang masa depan.

Lagu pembuka “Welcome To New York” di permukaan adalah tentang tiba di kota besar dengan “a kaleidoscope of loud heartbeats” (kaleidoskop detak jantung yang keras), tetapi di bawahnya adalah tentang memulai kembali, barangkali setelah hubungan yang gagal, memimpikan awal yang baru.

Lagu favorit album “Out of the Woods” menceritakan seorang perempuan di masa sekarang mengenang hubungannya di masa lalu, dan menantikan masa depan. “I remember thinking – are we out of the woods yet? Are we out of the woods? Are we out of the woods, yet? Are we out of the woods?” (Saya ingat pernah berpikir – apakah kita sudah keluar dari hutan?)

Pesan album ini adalah tentang harapan, membuat sesuatu yang indah dari sesuatu yang sulit.

Dalam bukunya yang terbit pada tahun 1995, She Bop: the definitive history of women in popular music, Dr Lucy O’Brien menulis bahwa dalam pop: “ada kesan kekuatan dan kerapuhan dalam perjuangan. Itu dapat dirasakan dalam nada-nada kencang Dusty Springfield, gitar rock Chrissie Hynde, suara kontralto blues Amy Winehouse.”

Dan itu juga ada dalam 1989-nya Taylor Swift.

Dengan dirilisnya album ini, Taylor Swift memperoleh – bersama banyak penggemar baru – rasa hormat yang baru dia dapatkan dari industri musik yang lebih luas. Dia mulai disebut sebagai “auteur” alih-alih sekadar artis, dan publikasi-publikasi musik yang sebelumnya mengabaikannya mulai memperhatikannya.

Musisi alt-country Ryan Adams meng-cover satu album 1989 dan merekamnya jadi satu album tersendiri (yang tidak disambut begitu meriah), dan Taylor Swift menjadi kolaborator permanen dengan beberapa musisi favorit Pitchfork Justin Vernon dari Bon Iver dan Aaron Dessner dari The National.

1989 menandai titik balik untuk musik Swift, dan hubungan baru dengan para penggemarnya (pada satu momen selama tur pers album, dia sampai mengundang mereka secara terbuka ke rumahnya saat tampil di televisi).

Bersama dengan energi yang dia salurkan ke dalam penulisan lagunya yang sangat personal tapi tetap relevan, dia telah mencurahkan usaha yang sepadan kepada orang-orang yang mendengarkan lagu-lagunya, menciptakan hubungan timbal balik dan menghasilkan pengabdian yang tak tergoyahkan di antara banyak orang.

Itu sebabnya para “Swiftie” begitu senang ketika dia merilis ulang album-album yang pertama kali mereka dengarkan kurang-lebih satu dekade lalu.

Pada sebuah acara penghargaan di tahun 2019, Taylor Swift berkata: “Kepada para penggemar yang datang ke pertunjukan saya, yang membeli album-album saya, saya hanya ingin Anda tahu satu hal ini – Anda adalah hubungan terpanjang dan terbaik yang pernah saya miliki.”

By Admin